Saturday, December 23, 2006

DJENGKOL : Dulu - Sekarang & Esok

DJENGKOL KEDIRI JATIM
Sebuah Catatan Kilas Balik


Djengkol, hanya sebuah tempat di Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Menelusuri Djengkol di Internet dengan menggunakan fasilitas Google Search, atau Yahoo atau yang lainnya, jika hanya menuliskan Jengkol, tidak akan menemukan secara spesifik mengenai Djengkol yang dimaksud. Yang muncul adalah Jengkol sejenis bahan makanan serupa dengan Pete, untuk lalap dan sayuran.


Gambar 01 : Gerbang Masuk Perumahan Djengkol

Secara Geografis (http://www.fallingrain.com/world/ID/8/Jengkol.html) Djengkol terletak di antara 7° 54' dan 7° 18' Lintang Selatan dan 112° 42' dan 112° 1' Bujur Timur, dengan batas batas wilayah :

-Utara / Lor : Dusun Mangunrejo Desa Pranggang
-Timur/ Wetan : Dusun…………. Desa
-Selatan/ Kidul : Dusun Bendo Desa Jarak
-Barat/ Kulon : Dusun Blendri Desa Plosokidul

Gambar 02 : Eks.Pasar Tradisional Djengkol

Djengkol bukan sebuah Dusun atau perdukuhan, tetapi sebuah nama/ tempat perkebunan yang kini menjadi bagian dari PTP X - PG.Pesantren Baru Kediri.

Entah sejak kapan dinamakan Djengkol (dengan penulisan ejaan lama – bahkan hingga kini) orang sekitar Kediri, lebih mengetahuinya sebagai daerah perkebunan Tebu sejak dahulu dan letaknya di antara jalan raya yang menghubungkan Kota Pare (17 km arah utara) dan Wates (7 km arah selatan). Bahkan masyarakat utara Djengkol jika hendak menuju ke Blitar, lebih memilih lewat jalan raya ini mengingat lebih dekat daripada melewati Kediri.

Gambar 03 :
Ladang Tebu dengan Latar Belakang Gunung Kelut, Hutan Tropis Djengkol (Alas Jamban) dan Kebun Jambu Mente.

DJENGKOL & SISA SISA NEDERLAND INDISH

Periode 1800 – 1900an, manakala Belanda menjadikan kawasan ini sebagai perkebunan dan dihuni pula oleh para pengelolanya yang berkebangsaan Belanda, dan ada diantaranya menikah dengan pribumi. Sebuah kuburan tua yang kini tidak terawat lagi, terletak di ujung timur belakang deretan rumah dinas Sinder yang sering di sebut dengan Loji bagian selatan, cukup untuk menjadi buktinya.
Gambar 04:
Pabrik Gula Pesantren Kediri 1920 (dari KITLV - Nederland)


Membaca beberapa batu nisan di kuburan itu meski sudah lapuk dimakan usia, tertera beberapa nama Asing/ Belanda. Diperkiran ada lebih dari 20 makam, yang bentuknya sangat lebar layaknya kuburan Belanda di kota-kota besar. Hingga tahun 1980an masih banyak warga blasteran (Belanda – Pribumi) yang tinggal di wilayah Perkebunan, bukan hanya di Djengkol. Bahkan ada diantaranya menjadi teman sekelas saat di Taman Kanak Kanak Penataran Djengkol.
Gambar 05 : Vervoer van agavebladeren per lorrie op tapioca- en vezelonderneming Bendoredjo bij Kediri 1920 (dari KITLV - Nederland)

Jika kita menelusurinya lewat Google Earth, melalui foto satelit tetap tertuliskan Djengkol bukan Jengkol dan disejajarkan dengan Kota Kediri, Pare, Wates maupun Blitar. Diperkirakan yang menjadi dasarnya adalah Peta jaman penjajahan Belanda dulu. Dari sebuah Website di sebutkan bahwa Djengkol dulunya adalah kawasan perkebunan untuk pabrik Tapioca (de ondernemingen Djengkol-Kallasan). Karena menjadi kawasan perkebunan maka banyak juga pendatang lokal yang datang ke tempat yang akhirnya di peta-kan dengan nama Djengkol ini untuk menjadi buruh perkebunan dan pabrik.
Gambar 06:
Djengkol dari Udara - dari Google Earth


DJENGKOL & PALU ARIT DILADANG TEBU


Periode 1960 – 1970an adalah puncak ketenaran Djengkol, dimana, namanya mencuat seiring dengan sejarah kelam bangsa ini yang berujung pada Peristiwa GESTAPU - G30S/PKI, Bung Karno Presiden pertama RI sering menyebutnya dengan GESTOK.

Masa – masa itu adalah saat terjadinya peristiwa “ Palu Arit di Ladang Tebu” meminjam istilah, dari bukunya Hermawan Sulistyo (Hermawan Sulistyo adalah Peneliti Senior pada Puslitbang Politik dan Kewilayahan LIPI. Gelar doktornya diperoleh dari Department of History, Arizona State University, Amerika Serikat). Versi pemerintah menyebutkan bahwa Peristiwa Djengkol didalangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) yang memprovokasi Barisan Tani Indonesia (BTI) sebuah Organisasi Underbouw-nya PKI. Karena peristiwa ini banyak simpatisan Partai berlambang Palu Arit itu atau bahkan mereka yang tidak tahu menahu akan PKI, diciduk dan di tahan, bahkan banyak yang di bunuh.
Gambar 07: Buku Palu Arit di Ladang Tebu

Periswiwa itu hingga kini masih menyisakan pertanyaan bagi keluarga yang ditinggalkan (anak, cucu) dimana masih ada diantaranya yang mendapatkan label/cap kakek atau nenek mereka dulu adalah PKI. Mereka yang masih hidup kini, tentu banyak kenangan pahit akan hal tersebut. Seorang lelaki berusia sekitar 60tahunan, yang hingga kini masih bermukim di Djengkol menyebutkan dirinya adalah salah satu korban peristiwa yang sangat kelam itu.

Gambar 08:
Rumah Dinas Buruh yang sudah tidak dihuni, saksi bisu " Peristiwa Djengkol"


Disebutkannya, saat itu tahun (60an) dirinya dan beberapa pemuda di Djengkol dan sekitarnya diminta bergabung ke organisasi pemuda untuk berlatih baris berbaris, sebagai persiapan Upacara Hari Kemerdekaan, yang diselenggarakan setiap tanggal 17 Agustus di tingkat Kabupaten. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Pemuda Rakyat. Akibatnya, pasca peristiwa G 30 S tersebut, dia dan beberapa orang pemuda lainnya diangkut dengan truk tentara dan dipenjarakan di LP Kediri.

Karena tidak terindikasi langsung, maka akhirnya pemuda ini di bebaskan, dan diwajibkan lapor ke aparat TNI setiap minggunya. Bukan itu saja, dengan jaminan sejumlah uang akhirnya dia bisa bebas, meski orang tuanya pontang panting menjual hewan ternaknya untuk menebus sang pemuda tadi. Dampak dari peristiwa itu dirasakannya sangat berat. Selama bertahun tahun jaman ORDE BARU dia tidak bisa leluasa mencari pekerjaan karena cap yang melekat tadi. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, pemuda itu yang kini telah menjadi kakek, dikaruniai lebih dari 10 cucu itu, bekerja serabutan.
Pendek kata, saking begitu hebohnya Djengkol kala itu, sehingga banyak orang di sekitarnya bahkan di dunia ini selalu mengkaitkannya dengan Peristiwa Djengkol dimaksud.
Gambar 09 : MAJALAH TIME July 15, 1966 Vol. 88 No. 3

DJENGKOL & SATE BEKICOT


Tahun 1980an, Djengkol kembali populer karena BEKICOT. Sebenarnya Bekicot yang menjadi masakan khas Djengkol itu sudah dikonsumsi warga Djengkol sejak jaman penjajahan Jepang, dimana saat itu rakyat Indonesia krisis pangan akibat Eksploitasi segala potensi Jepang dalam Perang Dunia II. Maka sebagai gantinya, pada jaman susah itu penduduk Djengkol memasak bekicot, sebagai sate dan kripik yang menyerupai paru sapi yang digoreng kering.
Gambar 10 : Primadona Djengkol tahun 80an, kaya protein, di ekspor ke Perancis

Pioner dalam memasak bekicot ini diantaranya adalah DJAIS yang mulai menjual sate bekicot untuk umum sejak tahun 1970an. Adanya alternative pangan ini rupanya dilirik pemerintah setempat dengan menggalakkan masyarakatnya untuk membudidayakan/ ternak bekicot.

Adalah SADI,seorang pensiunan Kepala Sekolah yang tinggal di desa Plosokidul, 1 kilometer barat Djengkol menajdi pionirnya dalam ternak bekicot tahun 1980an. Bahkan Plosokidul/Djengkol sempat dikunjungi Menteri Penerangan kala itu di jabat oleh Harmoko, karena budidaya bekicot ini. Sebelum adanya bekicot hasil budidaya, saat itu Djengkol kebanjiran bekicot dari berbagai daerah di luar Kediri.

Hampir setiap hari lebih dari 2 truk bekicot liar yang dikumpulkan warga luar kediri dari kebun dan tanah pekarangan sekitar rumah mereka, dikumpulkan oleh pengepul dan dalam jumlah yang besar baru dikirim ke Djengkol untuk dijual kepada para pemasak bekicot. Kini sisa-sisa kejayaan dan keemasan bekicot masih bisa ditemui. Lebih dari 10 warung makan menyediakan sajian sate bekicot dan kripiknya. Warung warung itu terletak di sepanjang jalan raya Djengkol, diantaranya Warung Mbak Sri, Warung Lumintu dll.

Selain dijual di warung warung di Dengkol, tahun 80an lebih dari 50 pedagang sate bekicot berjualan dengan cara berkeliling dengan sepeda onthel. Mungkin kini, mereka yang berjualan keliling sudah tidak ada. Kalaupun ada mungkin tidak lebih dari 5 orang. Di Kota Blitar dan Kota Kediri, tidak sulit menemukan sate bekicot ini. Meski bukan produksi Djengkol lagi, banyak pengusaha makanan ini, menitipkannya di warung – warung makan tradisional.
Gambar 11 : " Dulu Djengkol rame. Kini sepi mas" kata Mbah Mangun, mantan pedagang kelontong Pasar Djengkol (Akhir Nov 2006)

Kepopuleran nama Djengkol, sebenarnya pernah terjadi pada saat beberapa periode kehidupan yang lalu. Kini mungkin bagi siapapun yang melintasi Djengkol akan mendapatkan kesan kusam. Yang terlihat sepintas hanyalah komplek perumahan yang tidak semuanya terisi.

Belum lagi perumahan yang dulu menjadi hunian bagi karyawan/ buruh perkebunan, kini banyak yang tidak dihuni dan tidak terawat lagi. Jika mungkin berkesempatan untuk lebih jauh mengetahui, cobalah untuk masuk ke emplacement Djengkol. Gedung Gedung yang berdiri kokoh itu kini layaknya sebuah bangunan kuno bergaya eropa tanpa keindahan. Deretan rumah rumah sinder Belanda yang kini juga tidak seperti dulu, terawat dengan taman taman yang rapi dan asri.(gp/161206)

5 comments:

Anonymous said...

If you are interested I have some photographs for you of Djengkol of 1922
My mother has been born in Kediri and lived in Djengkol ;my grandfather [named Goedkoop] was in charge of the sugar factory in the period 1909- 1926.

Philip Stoutenbeek
philip_inez@hotmail.com

Anonymous said...

Dag meneer Stoutenbeek, ik reageer hiermee op een melding van U over foto's die u bezit van Onderneming Djengkol nabij Kediri in Oost-Java.
In de periode dat uw grootvader daar belast was met de onderneming heeft mijn oom G.Bruins daar de technische installaties geplaatst en verzorgd. Die moeten elkaar dus goed gekend hebben.
Mijn oom was scheepsmachinist maar werd afgekeurd wegens doorzettende hardhorigheid. Hij is toen in dienst getreden van de onderneming ( van de H.V.A).
Mijn vader die een paar jaar jonger en ook scheepsmachinist was heeft tussen 1920 en 1932 27 reizen gemaakt van Amsterdam naar Soerabaja. Dat was altijd het einddoel. Vanuit Soerabaja bezocht mijn vader zijn broer en alle verhalen daarover heeft hij ons later verteld.
In 1993 hebben mijn vrouw en ik de onderneming gevonden en daar door een echtpaar die op het terrein woonde een rondleiding gekregen van een hele dag. Toen ik vertelde dat mijn vader het had over een Heemafaggregaat een Stork dieselmotor en een motorlorry liep de man naar een loods en liet ons in een hoek alle afgedankte machines zien die daar nog lagen . Ik heb daar toen foto's van gemaakt maar mijn vader was juist een paar maanden eerder overleden.
Ik heb nog een goede foto vanuit de twintiger jaren waar mijn oom,
tante en mijn vader op rotan stoelen in de tuin zitten.
Ik ben geinteresseerd in de foto's die U nog heeft van Djengkol. In ieder geval om te bekijken of ze voor ons interessant zijn; u zou ze in eerste instantie in klein bestand kunnen sturen.
Mocht U interesse hebben in de foto van mijn oom, dan zal ik die scannen en mailen.
met groet,
Ruud Bruins
Zevenaar

Anonymous said...

PS: Zie ook op uw mailadres. Het mijn is: r.bruins5@upcmail.nl

bentanGWaktu said...

De heer Philip Stoutenbeek
De heer Ruud Bruins

Zo blij dat je hebt commentaar op mijn blog over Djengkol plantage, nu een deel van de suikerfabriek "pesantren Baroe" Kediri.
Mijn grootvader was een inheemse monteur machines in deze fabriek. Ik ben blij als je stuur me dan een foto van hem. dank u

ganang@journalist.com

Anonymous said...

Did u?? Actually where ur mom live now????