Friday, December 30, 2011

NAPAK TILAS KE WILAYAH PERKEBUNAN

(catatan : sebelum melihat foto foto, sebaiknya membaca dulu narasi lengkap berikut)

Saya memulainya dari mana ya? Saya bangga sebagai “anak perkebunan”. Semoga tulisan ini menjadi sebuah catatan, setidaknya bagi saya pribadi dan pula informasi atau tambahan pengetahuan bagi yang membacanya.

Saya tiga bersaudara, anak pertama, kedua adik saya dua duanya perempuan dan pula telah berumah tangga. Satu diantaranya, bahkan kini masih tinggal di area perkebunan dan bekerja sebagai staff administrasi pada Pusat Penelitian Gula dibawah naungan PT. Perkebunan Nusantara X (Persero), Direktorat SDM Dan Umum, Bidang Penelitian. Lembaga ini mengelola penelitian pada 11 (sebelas) Pabrik Gula di lingkungan PTPN 10 (Persero) yang berkedudukan di Penataran Djengkol – Plosokidul – Plosoklaten Kediri.

Ayah saya, adalah pensiunan karyawan ‘perkebunan’ di Pabrik Gula (PG) Pesantren Baru, yang berkedudukan di timur Kota Kediri Jawa Timur yaitu PG. Pesantren Baru, adalah salah satu Unit Usaha milik PTPN X, sepuluh PG lainnya tersebar di wilayah Jawa Timur yaitu : PG.Watoetoelis, PG.Toelangan, PG.Kremboong, PG.Gempolkerep, PG.Djombang baru, PG. Tjoekir, PG.Lestari, PG.Meritjan, PG.Ngadirejo dan PG.Modjopanggoong. Pabrik Gula ini memproduksi gula putih dengan mutu SHS IA (Superior High Sugar) dan tetes dari bahan baku tanaman tebu dengan kualitas produk Gula, ICUMSA = 150 lu dengan gram (butiran) 1,08mm dan Tetes, TSAI = 55,8%. Bahan baku tanaman tebu diperoleh dari lahan dengan status kepemilikan : Tebu sendiri yang berasal dari lahan Hak Guna Usaha (HGU) seluas ± 5% dari keseluruhan lahan, dan Tebu yang berasal dari petani atau istilah umumnya Tebu Rakyat (TR) seluas ± 90% dari keseluruhan lahan tanaman tebu. (dari http://www.ptpn10.com).

Sebagai anak perkebunan, saya dibesarkan dilingkungan yang jauh dari kota, bahkan sekolah-pun harus ke kota Kediri. Melanjutkan sekolah tingkat SMP dan SMA di kota, utamanya sekolah favorit pada decade 70-80an adalah dambaan setiap anak perkebunan. Disekeliling perkebunan, ada pula sekolah tingkat ini. Hanya, bila sekolah menggunakan kendaraan sendiri. Berbeda bila sekolah di kota, disiapkan kendaraan antar jemput. Saya dan sebagian besar orang menyebutnya dengan “bus sekolah”.

Tempat itu bernama Perkebunan Djengkol. Jangan berharap menemukan rimbunnya dan hamparan pohon Jengkol di wilayah ini. Entah sejak kapan disebut nama Jengkol. Tetapi dalam peta peta lama terbitan Hindia Belanda (abad 18 – 19), hingga kini tertera nama “DJENGKOL”. Perkebunan Djengkol, disebut juga dengan “Penataran Djengkol”. Djengkol, dulunya adalah perkebunan Cassave (Ketela Pohon/ Singkong) bahan baku tepung tapioca dan Serat Nanas (untuk bahan karung) milik HVA (Handelsvereeniging Amsterdam) pada akhir abad 18 hingga nasionalisasi perusahan asing pada pemerintahan Bung Karno tahun 50an.

Layaknya kawasan industry jaman sekarang, dulu Pabrik ini memiliki sarana dan infrastruktur yang lengkap. Pabrik (emplacement), Perumahan karyawan, pimpinan perusahaan, rumah ibadah, sekolah, gedung pertunjukan seni dan budaya, lapangan olahraga, poliklinik, pasar, hingga sarana telekomunikasi (telephone). Pendek kata segala sarana dan prasarana sangat menunjang pada jamannya. Hanya, dikelilingi oleh hutan dan perkebunan, jauh dari wilayah kota.

Djengkol, berada diantara ruas jalan Pare (Kediri) yang menghubungkan ke Blitar (melalui Wates). Bekas pabrik itu kini masih ada dan masih digunakan, meski tidak memproduksi Karung Goni lagi. Setelah nasionalisasi, Djengkol yang awalnya adalah lahan perkebunan milik PG. Ngadiredjo (selatan Kediri), kini menjadi wilayah Pabrik Gula Pesantren Baru.

Penataran Djengkol, lahannya berada di timur kawasan eks pabrik, diantaranya Kentoong, Simbar Lor, Simbar Kidul, Bakoong (Bakung), Truneng dan Kallasan. Beberapa diantaranya, secara administrative kewilayahan kini masuk desa Trisula dan Jarak, semuanya di wilayah Kecamatan Plosoklaten. Sedang Djengkol, kini menjadi nama dusun, masuk wilayah Desa Plosokidul.

Menjadi keasyikan tersendiri bagi saya, suatu waktu dapat kembali napak tilas dan jalan jalan diwilayah perkebunan yang masuk dalam wilayah Penataran Djengkol ini. Hitung hitung nostalgia, jaman kecil dulu, bila masa liburan sekolah datang, saya sering diajak keliling wilayah perkebunan ini, oleh ayah saya.

Sayang pada kunjungan saya waktu itu, tidak sedang musim jelang panen “tebang tebu” jadi tanaman tebu semuanya dalam kondisi musim tanam, alias masih kecil kecil. Dimasing masing wilayah perkebunan, terdapat rumah tinggal buruh perkebunan. Biasanya dipimpin oleh “kepala kampong”, demikian istilah pada masa Hindia Belanda dulu. Lokasi yang jauh dari “Djengkol” ini, sekitar 3 – 7 kilometer, dan berada di lereng Gunung Kelud. Tak hanya rumah buruh, tapi pula ada kantor wilayahnya. Hanya, sebagain besar kini menyisakan bekas bekas-nya saja, atau hanya sisa pondasi-nya, mengingat sudah berdiri sejak akhir abad 19.

Seperti yang dituturkan oleh Kakek (Bapak ayah saya) yang juga orang perkebunan, masing masing kampong : Djengkol, Kentoong, Truneng, Simbar, Bakoong dulu dihubungkan dengan jalur rel kereta api uap (lorrie). Di Bakoong (bakung) misalanya, pada tahun 80an saya masih bisa melihat emplacement layaknya komplek stasiun kereta api besar. Yang membedakan, di Bakung ini jalur jalur keretapinya yang banyak untuk pengangkutan tebu pada musim giling dan inspeksi pada musim tanam. Kini hanya bekas bekasnya saja, sementara rel dan lorrie sudah tidak digunakan lagi, karena sudah diganti dengan kendaraan darat roda empat, seperti jeep dan mobil pick-up. Sementara untuk pengangkutan tebu, digunakan truk truk sewaan.

Hingga kini, komplek perumahan di tengah perkebunan itu masih dihuni oleh para buruh perkebunan. Mereka mungkin sudah generasi ke tiga ke empat, semenjak kali pertama leluhurnya mendiami wilayah ini. Mereka juga masih bekerja di perkebunan, meski sebagian lainnya ada yang mencari nafkah tak menjadi buruh perkebunan, di luar kebun.

Membayangkan keseharian di wilayah perkebunan, tentu sepi, apalagi bila malam tiba. Saya dan keluarga, meski tidak tinggal di tengah perkebunan utama-nya saja, sudah merasa sepi kala itu 80-90an. Padahal, tempat tinggal kami di komplek perumahan yang dekat dengan eks. pabrik, berada di antara jalan raya yang menghubungkan Kediri ke Blitar. Pengin tahu apa hiburan saya kala itu? Hanya membaca buku, nonton TV (malam hari saja, TVRI) dan mendengarkan radio. Lainnya, sesekali ke-kota untuk belanja bulanan. Beruntung, sering diajak ayah ke berbagai tempat atau kota di pulau Jawa ini. Sehingga saya jadi memahami “dunia luar”.

Tapi, namanya saja anak perkebunan. Meski kini sudah di kota, inginnya memiliki rumah malah diwilayah pedesaan, yang asri, hijau dan berudara segar dan sejuk. Semoga, tak hanya sekadar bernostalgia, tapi memang beginilah “anak perkebunan”, merasa nyaman bila di kampong.










Saturday, December 23, 2006

AYAM MATI DI LUMBUNG PADI & SEMUT MATI DI TOPLES GULA

"Aku Bukan MERAH. Aku Indonesia Asli "
Ganang Partho WK -Des2006


Sebuah Perenungan Singkat
ganang@journalist.com

Ada peribahasa kuno yang sering kita dengar, bahkan mungkin akhir akhir ini kembali kita dengar pula. " Ayam Mati di lumbung Padi ". Bung Karno, pernah berkata, " Kalau aku lihat samudra yang biru diantara kepulauan Nusantara, aku melihat Indonesia. Kalau aku melihat, tari gambyong, tari kecak, tari piring, tari jaipong, aku melihat Indonesia. Kalau aku melihat wayang kulit jawa, wayang golek sunda, Aku melihat Indonesia. Kalau aku melihat anak anak kecil bermain cublak cublak suweng, petak umpet, aku melihat keceriaan Indonesia. Kalau aku melihat PADI YANG MENGUNING aku melihat Indonesia". Kataku, "Aneh bin ajaib bukan, kalau kita hidup di negeri yang subur begini, harus berantakan hidup karena BERAS?".

Mungkin saya yang goblog, atau tidak bisa melihat dinamika negeri ini. Beras, susah di cari pasar. kalau ada harganya mahal. Lalu kita mau makan apa? Ada lagi peribahasa lainnya yang tidak kalah maknanya. " Semut Mati di Toples Gula". Kakek saya (alm) Sariredjo, seorang pensiunan karyawan yang mengabdikan dirinya kepada Perkebunan/ Pabrik Gula, pernah berkata pada saya tahun 1986. " Dulu, saat masih di jajah Belanda, Gula melimpah ruah. Bahkan kata Sinder-sinder Londo itu, kita bisa Ekspor Gula".

Memaknai hal tersebut, saya jadi binggung sekaligus merasa bodoh. Kenapa Bangsa ini selalu mengaku sebagai bangsa yang besar, bangsa yang kaya, bangsa yang makmur, bangsa yang Gemah Ripah Loh Jinawi, tapi ngurus produksi Beras ndak becus. Memanajeni Gula, ndak bisa. Saya bukan Insinyur Pertanian, bukan pula Ahli Ekonomi. Saya hanya anak pensiunan Buruh Perkebunan, itupun bukan dari kalangan SINDER. Saya hanya prihatin, sampai kapan kita harus mikirin dan kecebur dalam kubangan masalah Beras dan Gula saja, setiap saat setiap waktu. Lalu kapan kita akan membangun, seperti yang pernah dicita-citakan Bung Karno, Bung Hatta dan para The Founding Fathers kita lainnya.

Sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan Perkebunan/ pabrik Gula, saya hanya bisa berharap, kelak semuanya akan berakhir dengan kembali Indonesia Swasembada Pangan. Indonesia Ekspor Gula ke Mancanegara. Tapi kapan??? Sebuah catatan yang ditulis oleh Siswono Yudo Husodo berikut ini, barangkali dapat menjadi cermin bagi bangsa ini untuk kembali menjadikan Negerinya, negeri yang Makmur dan Kaya Raya karena hasil buminya.

Indonesia Eksportir Gula
Utopia atau Realistis?
Siswono Yudo Husodo
TOKOH-tokoh gula, seperti Soemitro di Jakarta, Herry Subandhi di Semarang, Simatupang di Surakarta, dan banyak lain, pada waktu ini, di hari tuanya, di usianya sekitar 80 tahun, tentunya menyaksikan keterpurukan industri gula kita dengan penuh kesedihan. Sekitar tahun 1950-an, dengan penuh dedikasi mereka membangun industri gula nasional di pabrik-pabrik gula di Jawa.

DARI negara pengekspor gula terbesar nomor 2 di dunia setelah Kuba di zaman penjajahan Belanda, sekarang Indonesia menjadi negara importir gula terbesar nomor 2 di dunia setelah Rusia. Dapatkah industri gula Indonesia kembali berjaya dan menjadikan Indonesia negara eksportir gula?

Keraguan akan kemampuan meningkatkan produksi gula Indonesia muncul akibat merosotnya produksi gula sebesar 40 persen selama 6 tahun dari 2,490 juta ton di tahun 1993 menjadi 1,493 juta ton di tahun 1999. Pada kurun yang sama, kebutuhan gula dalam negeri meningkat 17 persen dari 2,699 juta ton menjadi 3 juta ton. Akibatnya, impor meningkat 8 kali lipat, dari 236.719 ton menjadi 2.187.133 ton.

Optimisme untuk bangkitnya kembali industri gula kita sempat tebersit dengan melihat meningkatnya produksi selama tiga tahun terakhir sebesar 20 persen dari 1,493 juta ton di tahun 1999 menjadi 1,805 juta ton di tahun 2002.

Hanya saja rasa optimisme itu terganggu oleh rendahnya produktivitas kebun tebu di Jawa. Di zaman penjajahan Belanda, satu hektar kebun tebu di Jawa dapat menghasilkan rata-rata 15 ton gula, sementara pada waktu ini rata-rata hasilnya hanya 4,5 ton gula.

Di zaman penjajahan Belanda, pada masa puncaknya produksi gula, luas areal tanaman tebu di Indonesia (hanya di Jawa) hanya 190.000 ha. Namun, mereka bisa menghasilkan 2,85 juta ton gula setiap tahunnya. Pada waktu ini, dengan luas kebun tebu di Jawa kurang lebih 230.000 ha, tingkat produksinya hanya menghasilkan kurang lebih 1,1 juta ton gula.

Indonesia kini memiliki pabrik gula di Lampung, yang produktivitasnya termasuk yang paling efisien di dunia. Inilah yang membuat saya optimistis bahwa Indonesia akan dapat kembali menjadi negara eksportir gula.


Biaya produksi gula di 62 negara produsen gula dunia, bila dibagi dalam tiga kelompok, yaitu kelompok yang efisien, menengah, dan yang mahal, maka pabrik-pabrik gula di Lampung termasuk dalam kelompok yang efisien. Sedangkan pabrik-pabrik gula yang terdapat di Pulau Jawa termasuk kelompok yang mahal. Pada waktu ini, rata-rata biaya produksi gula di negara-negara yang paling efisien sekitar 260 dollar AS/ton, lebih tinggi dari harga gula di pasar internasional yang sekitar 220 dollar AS/ton.

Kondisi harga gula dunia yang sangat murah, lebih murah dari biaya produksi di negara-negara yang paling efisien itu, terjadi karena dunia sedang kelebihan gula. Pasar gula dunia memang sangat berfluktuasi dan labil. Indonesia sebagai negara importir gula pernah mengalami kesulitan ketika harga gula dunia melambung tinggi mencapai 771,6 dollar AS/ton di tahun 1971-1974 dan 625 dollar AS/ton di tahun 1980-1982, yang disebabkan oleh kekurangan gula di dunia. Terlampir statistik harga gula di pasar dunia tahun 1964- 2000.

Melihat fluktuasi harga gula dunia dan mempertimbangkan besarnya penduduk Indonesia yang 210 juta jiwa dengan pertambahan 1,6 persen per tahun, serta memperhatikan potensi yang tersedia, menurut hemat saya, pemerintah perlu menetapkan agar dalam waktu yang tidak terlalulama kira- kira 8-10 tahun, Indonesia dapat kembali memenuhi sendiri kebutuhan gulanya. Bahkan, lebih dari itu Indonesia harus kembali menjadi eksportir gula.

Ketetapan ini akan dapat terwujud manakala didukung oleh kondisi yang kondusif untuk peningkatan produksi. Jika dari areal tebu di pulau Jawa yang seluas 230.000 ha ditata kembali menjadi hanya 220.000 ha, tetapi dengan produktivitas yang meningkat menjadi 10 ton/ha (hanya 66 persen dari produktivitas kebun di zaman Belanda), maka Indonesia akan mencapai kondisi swasembada gula.

Dengan demikian, pabrik dipaksa menjamin produktivitasnya di atas 8 ton/ha. Untuk itu, mau tidak mau, mereka harus memanfaatkan air di bawah tanah sebagai sumber irigasi (seperti di India) serta mengganti benih dengan benih unggul. PARA ahli gula dunia berpendapat, Indonesia sangat berpotensi untuk mengembangkan industri gula.

Indonesia termasuk salah satu dari 33 negara yang dikenal sebagai IOR (Indian Ocean Rim), yang berperan penting dalam pergulaan dunia. Karena Indonesia mampu menghasilkan 34 persen produksi gula dunia, mengonsumsi 29 persen konsumsi gula dunia, dan menyuplai 33 persen ekspor gula dunia. Ke-14 negara di antara 33 negara IOR, yang dipandang sebagai eksportir gula dunia, yaitu India, Pakistan, Madagaskar, Afrika Selatan, Zimbabwe, Zambia, Sudan, Swaziland, Vietnam, Thailand, Mauritius, Australia, dan Indonesia. MESKIPUN kenyataan sekarang Indonesia adalah negara importir gula yang amat besar, penilaian para ahli gula dunia bahwa Indonesia berpotensi besar untuk menjadi negara produsen dan eksportir gula dunia bukanlah suatu penilaian yang tak berdasar.

Iklim di Indonesia sangat sesuai untuk tebu. Indonesia juga merupakan negara terkaya sumber daya genetik tebu dan diyakini sebagai daerah asal tebu dunia. Tersedianya sekitar 2 juta ha lahan yang sesuai untuk tanaman tebu di Kalimantan, Maluku, dan Papua, meyakinkan saya bahwa Indonesia, dengan perencanaan, kebijakan, dan pengembangan yang tepat, akan dapat kembali menjadi negara eksportir gula.

Dengan kebutuhan gula 3,36 juta ton setiap tahunnya yang meningkat 2,5 persen per tahun, pada waktu ini Indonesia menempati urutan kedelapan konsumen gula terbesar dunia. Ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pasar gula yang sangat besar. Pertambahan penduduk Indonesia yang tinggi (1,6 persen/tahun) dan tingkat konsumsi per kapitanya yang masih rendah (15 kg /kapita /tahun; rata-rata dunia telah mencapai 25,1 kg /kapita /tahun) membuat pasar gula indonesia ke depan akan melonjak sangat besar dan berpotensi menjadi pasar gula terbesar nomor 4 di dunia dalam 20 tahun yang akan datang.

Pasar gula yang amat besar itu selama ini belum dimanfaatkan oleh kebijakan negara untuk mengembangkan industri gula dalam negeri. Yang terjadi justru sebaliknya, pasar gula Indonesia dimanfaatkan oleh produsen gula luar negeri dan sekaligus kondisi harga gula dunia telah berperan memerosotkan industri gula nasional.

Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa negara-negara Amerika Serikat, Jepang, Australia, negara-negara Eropa, India, Filipina, dan Thailand, yang harga gula di pasar domestiknya lebih tinggi dari Indonesia, tidak dibanjiri gula impor dan industri gulanya bahkan meningkat.


Bahkan, Uni Eropa menjadi negara pengekspor gula utama di dunia, padahal Uni Eropa menghasilkan gula dari beet yang biaya produksinya 70 persen lebih mahal daripada gula tebu. Negara-negara eksportir gula itu (Australia, India, Thailand, Amerika, dan Brasil) mampu mengekspor gulanya dengan harga di bawah biaya produksinya. Jawaban atas semua keanehan itu adalah karena negara-negara yang bersangkutan melindungi potensi industri gulanya dan memanfaatkan pasar di dalam negerinya untuk memperkuat industrinya. Kebijakan itu perlu kita contoh. Yang terjadi di Indonesia, masuknya gula murah dunia telah ikut menghancurkan industri gula kita.

Masuknya paha ayam murah dari AS menghancurkan peternakan ayam kita. Masuknya pakaian bekas yang sangat murah menghancurkan industri garmen dan konfeksi kita. Industri apa yang akan jadi korban berikut? Pada waktu ini, tingkat ketergantungan pada gulaimpor mencapai 72 persen dari kapasitas produksi industri gula nasional yang masih bekerja. Angka itu menunjukkan, dari sisi produksi pabrik bisa ditingkatkan.

Dari sisi produktivitas kebun, juga bisa ditingkatkan. Dalam perspektif jangka panjang, upaya meningkatkan produksi gula dalam negeri merupakan upaya strategis yang paling tepat untuk memecahkan persoalan pergulaan Indonesia. Upaya peningkatan produksi dalam negeri, betapapun pentingnya, harus senantiasa memperhatikan pertimbangan-pertimbangan efisiensi.

Besarnya pasar gula Indonesia merupakan peluang bisnis yang akan mendorong tumbuh berkembangnya pabrik-pabrik baru dan peluang peningkatan penghasilan petani serta penyediaan lapangan kerja baru. Syaratnya, harga gula di dalam negeri memberi keuntungan pada industri gula dan petani tebu. Instrumen yang tersedia untuk menjaga dampak negatif dari fluktuasinya harga gula dunia adalah Bea Masuk.

SEJAK letter of intent yang pertama, Februari 1998, sesuai dengan agreement yang telah disepakati IMF dengan Pemerintah RI, Pemerintah menetapkan bea masuk gula 0 persen. Akibatnya, Indonesia dibanjiri gula impor yang murah, produksi gula dalam negeri merosot tajam, hampir 30 persen dalam satu tahun, dari 2,1 juta ton di tahun 1998, menjadi 1.493. 067 ton di tahun 1999. Impor gula meningkat 40 persen dari 1,4 juta ton di tahun 1998, menjadi 1,9 juta ton di tahun 1999.

Membiarkan pasar dalam negeri kita yang amat besar ini dibanjiri gula murah itu berakibat hancurnya industri gula nasional. Baru kemudian pada butir 90 letter of intent tahun 1999 ditetapkan bea masuk gula 25 persen yang harus secara bertahap dikurangi. Kemudian, oleh desakan berbagai pihak, dengan Keputusan Menteri Keuangan No. 324/KMK 01/2002, tarif bea masuk gula putih ditetapkan Rp. 700/kg dan raw sugar Rp 550/kg. Apakah itu cukup? Menurut hemat saya, masih kurang kalau melihat bea masuk gula ke Thailand dan India yang di atas 70 persen.

Tampak jelas bahwa pengelolaan kebijakan ekonomi tidak berlandaskan ideologi yang jelas. Ideologi dalam arti cita-cita jangka panjang yang didasarkan pada kepentingan bangsa dan negara, yang dijabarkan dalam rangkaian kebijakan untuk mencapai sasaran jangka panjang itu. Setiap kali ganti pemerintahan, berganti pula kebijakan dasarnya. Sepatutnyalah untuk produk-produk yang kita memiliki keunggulan komparatif yang amat tinggi (seperti beras, gula, karet, sawit, lada, pala, kopi, perikanan, kayu, dan lain-lain) beserta deretan industri downstream-nya, Indonesia menetapkan sasaran untuk dapat ikut menjadi pemasok kebutuhan dunia, sekaligus memperkuat perekonomiannya.

Pasar pangan yang amat besar yang kita miliki selayaknyalah dimanfaatkan untuk juga memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dengan melihat masalah-masalah yang ada, serta potensi yang tersedia, membangun kembali kejayaan industri gula di Indonesia, dan menjadikan Indonesia negara eksportir gula, bukanlah suatu utopia, tetapi suatu hal yang dapat dan sepatutnya diusahakan dalam tahun-tahun yang akan datang ini.

Berdasar artikel 19 GATT/WTO, waktu kita yang tersedia telah sangat terbatas, tinggal 8 tahun untuk menggunakan hak Auto Defense Mechanism. Untuk mencapai kondisi yang kondusif bagi peningkatan produksi, pemerintah melalui Bulog/PTPN/RNI perlu mengendalikan keseimbangan supply & demand dan disertai penggunaan instrumen bea masuk, pemerintah perlu menjaga agar harga gula di dalam negeri (pada waktu ini) berfluktuasi antara Rp 3.800/kg sampai Rp 4.100/kg. Tingkat harga tersebut cukup memberi insentif bagi pengembangan produksi dan tidak memberatkan konsumen.

Bersamaan dengan itu, manajemen pabrik gula dan kebun tebu di Jawa perlu dibenahi, dengan manajemen kebun oleh pabrik gula, dengan pabrik menjamin produktivitas tebu di atas 8 ton/ha, dengan luas areal tanaman tebu 220.000 ha, serta pembukaan pabrik-pabrik gula baru dan perluasan kebun-kebun tebu di luar Jawa.

Semoga tokoh-tokoh gula Indonesia yang sempat menyaksikan kejayaan gula Indonesia pada masa lalu, di usia beliau-beliau yang telah sangat senja ini, akan masih dapat melihat kembalinya kejayaan itu.


(Gambar dari berbagai sumber & Koleksi GP)

Siswono Yudo Husodo, Mantan Menteri/Ketua HKTI
http://www.unisosdem.org/article_printfriendly.php?aid=1751&coid=2&caid=19

DJENGKOL : Dulu - Sekarang & Esok

DJENGKOL KEDIRI JATIM
Sebuah Catatan Kilas Balik


Djengkol, hanya sebuah tempat di Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri. Menelusuri Djengkol di Internet dengan menggunakan fasilitas Google Search, atau Yahoo atau yang lainnya, jika hanya menuliskan Jengkol, tidak akan menemukan secara spesifik mengenai Djengkol yang dimaksud. Yang muncul adalah Jengkol sejenis bahan makanan serupa dengan Pete, untuk lalap dan sayuran.


Gambar 01 : Gerbang Masuk Perumahan Djengkol

Secara Geografis (http://www.fallingrain.com/world/ID/8/Jengkol.html) Djengkol terletak di antara 7° 54' dan 7° 18' Lintang Selatan dan 112° 42' dan 112° 1' Bujur Timur, dengan batas batas wilayah :

-Utara / Lor : Dusun Mangunrejo Desa Pranggang
-Timur/ Wetan : Dusun…………. Desa
-Selatan/ Kidul : Dusun Bendo Desa Jarak
-Barat/ Kulon : Dusun Blendri Desa Plosokidul

Gambar 02 : Eks.Pasar Tradisional Djengkol

Djengkol bukan sebuah Dusun atau perdukuhan, tetapi sebuah nama/ tempat perkebunan yang kini menjadi bagian dari PTP X - PG.Pesantren Baru Kediri.

Entah sejak kapan dinamakan Djengkol (dengan penulisan ejaan lama – bahkan hingga kini) orang sekitar Kediri, lebih mengetahuinya sebagai daerah perkebunan Tebu sejak dahulu dan letaknya di antara jalan raya yang menghubungkan Kota Pare (17 km arah utara) dan Wates (7 km arah selatan). Bahkan masyarakat utara Djengkol jika hendak menuju ke Blitar, lebih memilih lewat jalan raya ini mengingat lebih dekat daripada melewati Kediri.

Gambar 03 :
Ladang Tebu dengan Latar Belakang Gunung Kelut, Hutan Tropis Djengkol (Alas Jamban) dan Kebun Jambu Mente.

DJENGKOL & SISA SISA NEDERLAND INDISH

Periode 1800 – 1900an, manakala Belanda menjadikan kawasan ini sebagai perkebunan dan dihuni pula oleh para pengelolanya yang berkebangsaan Belanda, dan ada diantaranya menikah dengan pribumi. Sebuah kuburan tua yang kini tidak terawat lagi, terletak di ujung timur belakang deretan rumah dinas Sinder yang sering di sebut dengan Loji bagian selatan, cukup untuk menjadi buktinya.
Gambar 04:
Pabrik Gula Pesantren Kediri 1920 (dari KITLV - Nederland)


Membaca beberapa batu nisan di kuburan itu meski sudah lapuk dimakan usia, tertera beberapa nama Asing/ Belanda. Diperkiran ada lebih dari 20 makam, yang bentuknya sangat lebar layaknya kuburan Belanda di kota-kota besar. Hingga tahun 1980an masih banyak warga blasteran (Belanda – Pribumi) yang tinggal di wilayah Perkebunan, bukan hanya di Djengkol. Bahkan ada diantaranya menjadi teman sekelas saat di Taman Kanak Kanak Penataran Djengkol.
Gambar 05 : Vervoer van agavebladeren per lorrie op tapioca- en vezelonderneming Bendoredjo bij Kediri 1920 (dari KITLV - Nederland)

Jika kita menelusurinya lewat Google Earth, melalui foto satelit tetap tertuliskan Djengkol bukan Jengkol dan disejajarkan dengan Kota Kediri, Pare, Wates maupun Blitar. Diperkirakan yang menjadi dasarnya adalah Peta jaman penjajahan Belanda dulu. Dari sebuah Website di sebutkan bahwa Djengkol dulunya adalah kawasan perkebunan untuk pabrik Tapioca (de ondernemingen Djengkol-Kallasan). Karena menjadi kawasan perkebunan maka banyak juga pendatang lokal yang datang ke tempat yang akhirnya di peta-kan dengan nama Djengkol ini untuk menjadi buruh perkebunan dan pabrik.
Gambar 06:
Djengkol dari Udara - dari Google Earth


DJENGKOL & PALU ARIT DILADANG TEBU


Periode 1960 – 1970an adalah puncak ketenaran Djengkol, dimana, namanya mencuat seiring dengan sejarah kelam bangsa ini yang berujung pada Peristiwa GESTAPU - G30S/PKI, Bung Karno Presiden pertama RI sering menyebutnya dengan GESTOK.

Masa – masa itu adalah saat terjadinya peristiwa “ Palu Arit di Ladang Tebu” meminjam istilah, dari bukunya Hermawan Sulistyo (Hermawan Sulistyo adalah Peneliti Senior pada Puslitbang Politik dan Kewilayahan LIPI. Gelar doktornya diperoleh dari Department of History, Arizona State University, Amerika Serikat). Versi pemerintah menyebutkan bahwa Peristiwa Djengkol didalangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) yang memprovokasi Barisan Tani Indonesia (BTI) sebuah Organisasi Underbouw-nya PKI. Karena peristiwa ini banyak simpatisan Partai berlambang Palu Arit itu atau bahkan mereka yang tidak tahu menahu akan PKI, diciduk dan di tahan, bahkan banyak yang di bunuh.
Gambar 07: Buku Palu Arit di Ladang Tebu

Periswiwa itu hingga kini masih menyisakan pertanyaan bagi keluarga yang ditinggalkan (anak, cucu) dimana masih ada diantaranya yang mendapatkan label/cap kakek atau nenek mereka dulu adalah PKI. Mereka yang masih hidup kini, tentu banyak kenangan pahit akan hal tersebut. Seorang lelaki berusia sekitar 60tahunan, yang hingga kini masih bermukim di Djengkol menyebutkan dirinya adalah salah satu korban peristiwa yang sangat kelam itu.

Gambar 08:
Rumah Dinas Buruh yang sudah tidak dihuni, saksi bisu " Peristiwa Djengkol"


Disebutkannya, saat itu tahun (60an) dirinya dan beberapa pemuda di Djengkol dan sekitarnya diminta bergabung ke organisasi pemuda untuk berlatih baris berbaris, sebagai persiapan Upacara Hari Kemerdekaan, yang diselenggarakan setiap tanggal 17 Agustus di tingkat Kabupaten. Pemuda itu akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Pemuda Rakyat. Akibatnya, pasca peristiwa G 30 S tersebut, dia dan beberapa orang pemuda lainnya diangkut dengan truk tentara dan dipenjarakan di LP Kediri.

Karena tidak terindikasi langsung, maka akhirnya pemuda ini di bebaskan, dan diwajibkan lapor ke aparat TNI setiap minggunya. Bukan itu saja, dengan jaminan sejumlah uang akhirnya dia bisa bebas, meski orang tuanya pontang panting menjual hewan ternaknya untuk menebus sang pemuda tadi. Dampak dari peristiwa itu dirasakannya sangat berat. Selama bertahun tahun jaman ORDE BARU dia tidak bisa leluasa mencari pekerjaan karena cap yang melekat tadi. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangganya, pemuda itu yang kini telah menjadi kakek, dikaruniai lebih dari 10 cucu itu, bekerja serabutan.
Pendek kata, saking begitu hebohnya Djengkol kala itu, sehingga banyak orang di sekitarnya bahkan di dunia ini selalu mengkaitkannya dengan Peristiwa Djengkol dimaksud.
Gambar 09 : MAJALAH TIME July 15, 1966 Vol. 88 No. 3

DJENGKOL & SATE BEKICOT


Tahun 1980an, Djengkol kembali populer karena BEKICOT. Sebenarnya Bekicot yang menjadi masakan khas Djengkol itu sudah dikonsumsi warga Djengkol sejak jaman penjajahan Jepang, dimana saat itu rakyat Indonesia krisis pangan akibat Eksploitasi segala potensi Jepang dalam Perang Dunia II. Maka sebagai gantinya, pada jaman susah itu penduduk Djengkol memasak bekicot, sebagai sate dan kripik yang menyerupai paru sapi yang digoreng kering.
Gambar 10 : Primadona Djengkol tahun 80an, kaya protein, di ekspor ke Perancis

Pioner dalam memasak bekicot ini diantaranya adalah DJAIS yang mulai menjual sate bekicot untuk umum sejak tahun 1970an. Adanya alternative pangan ini rupanya dilirik pemerintah setempat dengan menggalakkan masyarakatnya untuk membudidayakan/ ternak bekicot.

Adalah SADI,seorang pensiunan Kepala Sekolah yang tinggal di desa Plosokidul, 1 kilometer barat Djengkol menajdi pionirnya dalam ternak bekicot tahun 1980an. Bahkan Plosokidul/Djengkol sempat dikunjungi Menteri Penerangan kala itu di jabat oleh Harmoko, karena budidaya bekicot ini. Sebelum adanya bekicot hasil budidaya, saat itu Djengkol kebanjiran bekicot dari berbagai daerah di luar Kediri.

Hampir setiap hari lebih dari 2 truk bekicot liar yang dikumpulkan warga luar kediri dari kebun dan tanah pekarangan sekitar rumah mereka, dikumpulkan oleh pengepul dan dalam jumlah yang besar baru dikirim ke Djengkol untuk dijual kepada para pemasak bekicot. Kini sisa-sisa kejayaan dan keemasan bekicot masih bisa ditemui. Lebih dari 10 warung makan menyediakan sajian sate bekicot dan kripiknya. Warung warung itu terletak di sepanjang jalan raya Djengkol, diantaranya Warung Mbak Sri, Warung Lumintu dll.

Selain dijual di warung warung di Dengkol, tahun 80an lebih dari 50 pedagang sate bekicot berjualan dengan cara berkeliling dengan sepeda onthel. Mungkin kini, mereka yang berjualan keliling sudah tidak ada. Kalaupun ada mungkin tidak lebih dari 5 orang. Di Kota Blitar dan Kota Kediri, tidak sulit menemukan sate bekicot ini. Meski bukan produksi Djengkol lagi, banyak pengusaha makanan ini, menitipkannya di warung – warung makan tradisional.
Gambar 11 : " Dulu Djengkol rame. Kini sepi mas" kata Mbah Mangun, mantan pedagang kelontong Pasar Djengkol (Akhir Nov 2006)

Kepopuleran nama Djengkol, sebenarnya pernah terjadi pada saat beberapa periode kehidupan yang lalu. Kini mungkin bagi siapapun yang melintasi Djengkol akan mendapatkan kesan kusam. Yang terlihat sepintas hanyalah komplek perumahan yang tidak semuanya terisi.

Belum lagi perumahan yang dulu menjadi hunian bagi karyawan/ buruh perkebunan, kini banyak yang tidak dihuni dan tidak terawat lagi. Jika mungkin berkesempatan untuk lebih jauh mengetahui, cobalah untuk masuk ke emplacement Djengkol. Gedung Gedung yang berdiri kokoh itu kini layaknya sebuah bangunan kuno bergaya eropa tanpa keindahan. Deretan rumah rumah sinder Belanda yang kini juga tidak seperti dulu, terawat dengan taman taman yang rapi dan asri.(gp/161206)